Mungkin kali ini para petinggi sekolah mulai menyadari bahwa muridnya sudah banyak yang berubah menjadi dewasa dengan hadirnya menstruasi bagi anak putri, dan akil baligh perubahan suara dan fisik bagi pria. Belum lagi kenyataan bahwa beberapa murid sudah menjalin pertemanan yang 'lebih' dengan lawan jenisnya. Tentu saja hal ini harus ditindaklanjuti dan syukurlah bila akhirnya dilakukan juga pemisahan kelas ini.
ini putri kelas 3 kalo ga salah, msh imut euy
Selama ini di skolahnya, pemisahan kelas memang baru dilakukan untuk siswa SMPIT nya, hasilnya menurut kami bagus, karena jelas sekali ada rasa canggung bagi ikhwan dan akhwat untuk berkhalwat. Dimulai dari sini, mudah2an pergaulan mereka pun akan lebih terkontrol dan semakin mengerti pembatasan yang benar sesuai ajaran agama.
Bisa jadi sih bagi sebagian pihak akan menganggap pemikiran kami kuno, mengekang pergaulan, memblokir pengetahuan mereka tentang makhluk lain jenisnya, dan tidak menutup kemungkinan akan membuat mereka malah penasaran dan berbuat buruk di belakang. Bagi kami itu tidak masalah, karena pemisahan ini sudah didasari pula dengan pemahaman yang kuat tentang mengapa harus terjadi pemisahan antara pria dan wanita sebelum mereka menjadi mahram .
Pendidikan tentu saja bukan hanya diserahkan kepada pihak sekolah, namun bekal yang terkuat harusnya tetap berada pada keluarga, karena tak jarang juga kami melihat, anak yang disekolahnya menutup aurat dengan benar, namun sepulang sekolah mereka dengan tenang tanpa teguran dari orangtuanya, tetap mengumbar aurat. Jika sudah begitu, bisakah menyalahkan sekolah, tentu saja itu sudah menjadi tanggung jawab orangtua. orangtua bisa saja mengandalkan pendidikan secara teori kepada anaknya, namun kehidupan sesungguhnya berada di tangan orangtua nya, yang akan mempertanggung jawabkan semua kelak kepada pemilik semua jiwa.
Mengendalikan anak 100% tentu saja nyaris tidak mungkin, karena mereka adalah makhluk berakal yang memiliki jiwa untuk merasa dan ilmu untuk dicerna, namun bukan berarti kita tidak bisa menanamkan benih yang kelak bisa menjadi bekal mereka untuk paham mana yang benar sesuai kaidah agama dan mana yang salah. Jika sudah tertanam hal baik dan buruk, tugas kita tinggal mengingatkan dan tentu saja berdoa semoga anak2 kita bisa menjaga diri, akhlak dan sikap dengan baik.
Kemarin aku tanya bagaimana kesan2 putri saat ada pemisahan kelas ini, dia senang sekali ternyata, karena tidak ada lagi anak2 berisik yang selalu mengganggu akhwat, disamping itu, ustadzahnya jadi lebih nyaman untuk bercerita tentang kehidupan akhwat beserta seluk beluknya, termasuk masalah sex education. hehehe ya syukurlah, itu salah satu dampak yang baik.
~~~~~~~~
Bogor, 07 Feb 2012
disela flu yang semakin berat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar