Hari itu, 24 Mei 2009, pukul 13.30 , kakakku yang juga tinggal di bogor menelpon dan mengabarkan bahwa ayah sakit , dan dia akan ke jakarta. Saat itu mobilku kebetulan sedang rusak, shg kakaku mengajak aku untuk ikut dengan nya ke Jakarta bila aku mau . Entah apa yang aku rasa, tp hati ini begitu ingin langsung terbang ke Jakarta dan membawa ayah ke RS. Dengan segera aku minta ijin kepada suamiku untuk diperbolehkan ikut ke Jakarta bersama kakakku, dan aku pamit ke anak2 untuk pergi. Putri yang saat itu sedang bermain, sempat terkesima dan langsung menuju kamarnya. Aku sedang bersiap2 untuk segera pergi, tak ada sedikit waktu yang aku sia siakan , karena aku benar2 ingin berada di samping ayah saat itu juga. Setelah siap, suamiku mengeluarkan motornya untuk mengantarku ke rumah kakak-ku, Putri tiba tiba menyodorkan surat kepadaku.
"bu, titip ke kai yaaa... bilangin kaka sayang ama kai" ucap putri sambil mencium tanganku.
Tak ada rasa apa apa saat itu, hanya aku ingin segera pergi. Setiba di drop oleh abang di rumah kakakku, aku mendapat telp lagi dari abang yang sudah pergi lagi untuk pulang , yang mengabarkan bahwa dia jg akan ikut ke jakarta karena barusan di telpon bahwa ayah sudah tak sadarkan diri. Suamiku dnegan kaos santai dan celana pendek, tidak mempedulikan lagi dengan apa adanya dia, cuma dia secepatnya meminjam pakaian dari kakak iparku.
Secepat kilat kami pacu kendaraan kami , dengan semua terdiam, mata memandang luar jendela dan mulut berucap pelan berzikir mohon perlindungan untuk ayahanda disana. Tak ada yang bersuara, kami ber empat tak mampu memikirkan yang terburuk, kami hanya ingin segera tiba di Jakarta. Perjalanan Jakarta - Bogor dengan speed 120km.jam terasa lamban bagi kami ...... semua terdiam, semua merenung dan berdoa....
Diperjalanan aku berusaha menelpon kembali ke Jakarta, dan hanya suara isak tangis yang aku dengar dari adikku. Aku berusaha menolak pemikiran buruk. Kembali aku telpon tanteku yang rumahnya ada didepan rumah ayah, Dia hanya berkata, bahwa ayah sudah tiada, tak ada yang bisa kita lakukan. Aku ingin berontak, aku marah... aku benci pada mereka. Penolakanku berkata, kenapa tidak dibawa ke RS saat tadi ayah sudah lemah ? Kenapa mesti nunggu kami ? Kenapa tidak ada yang berinisiatif memanggil ambulance? kenapa.. kenapa.. kenapa ... ??? Aku belum meneteskan air mata, keangkuhanku masih berharap bahwa itu tidak benar... Aku marah pada mereka yang ada disana, aku merasa seharusnya aku yang ada disana, bertindak cepat mengusahakan segala yang bisa aku lakukan untuk ayah . Sekali lagi aku telpon tanteku .. dia tidak berkata banyak, hanya berucap , segeralah kamu kemari nak, dan liat apa yang ada.....
Saat itulah airmataku luruh, lemas seluruh tubuh ini, dan segera ucapan "Innalillahi Wa inna ilaihi Rajiun" masih sadar aku ucapkan... tangisan berusaha mengikhlaskan semua , tangisan meredam keangkuhan menolak takdir. Alhamdulillah Allah masih mengingatkanku akan keimanan.... Ucap istighfar terus mengalir dari lisanku. Aku redakan panas tubuhku , aku luruhkan emosi dan sifat lemahku, aku pasrah ya Allah... aku ikhlas ya Allah....
Dan kami tiba disana ... memandang sesosok tubuh terbujur kaku di dipan ruang tengah . Tubuh kurus dengan tulang keras yang biasa memelukku saat aku tiba , telah terdiam, dengan senyum kembali ke penciptanya. Yaaaa aku masih menangis, bukan utnuk menyesali takdir Allah, hanya ungkapan rasa seorang manusia lemah yang masih rindu pelukan sang ayah.
Dan aku keluarkan surat dari putri , seraya mencium kening nya... Ayah, Kami sayang ayah, ada surat dari putri yang tidak akan pernah ayah baca, semoga ayah tenang di sana ... perjalanan abadi ayah akan dimulai.. tenanglah disana yah.. kami semua cinta ayah.
dan inilah surat putri yang tak pernah terbaca ..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar